Beranda / Aceh / Dari Rimba Pasee Ke Kursi Ketua DPRK Aceh Utara, Perjalanan Panjang Arafat Ali Menuju Periode Kedua

Dari Rimba Pasee Ke Kursi Ketua DPRK Aceh Utara, Perjalanan Panjang Arafat Ali Menuju Periode Kedua

ACEH UTARA | Langkah Arafat Ali menuju puncak parlemen di Kabupaten Aceh Utara, tidak dimulai dari rumah yang megah, Bukan pula dari ruang rapat yang nyaman atau meja-meja berpendingin udara.

Ia memulai dari Rimba Pase, di mana langit menjadi atap, tanah menjadi tikar, dan pepohonan menjelma menjadi dinding yang melindungi sekaligus menguji, Di sanalah hutan bukan sekadar tempat, melainkan rumah, sekaligus sekolah kehidupan yang menempa ketangguhan dan arah langkahnya.

Di medan itulah, ia memanggul senapan serbu Avtomat Kalashnikova 1947 (AK-47) buatan Rusia, memimpin sebuah regu kecil di tengah situasi yang serba tidak pasti saat konflik Aceh berkecamuk, Karena itu, dituntut memiliki keberanian, ketahanan, dan ketegasan dalam mengambil keputusan.

Tahun 1999 menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai bagian dari pasukan Siwah Agam, Dua tahun kemudian, di usia yang masih muda, ia dipercaya menjadi komandan regu (danru) dengan 12 personel di bawah komandonya, sebuah amanah yang tidak ringan di tengah situasi penuh tekanan.

Kemampuan memimpin, membaca situasi di lapangan, serta membangun komunikasi di tengah tekanan konflik menjadi fondasi awal yang membentuk karakter kepemimpinannya hingga hari ini, Setelah dua dekade itu berlalu, langkahnya berlabuh di ruang demokrasi.

Arafat kembali dipercaya memimpin parlemen Aceh Utara untuk periode kedua, sebuah perjalanan panjang dari rimba perjuangan menuju kursi kepemimpinan.

Anggota DPRK Aceh Utara dari Partai Aceh (PA) asal Daerah Pemilihan (Dapil) III itu resmi kembali menjabat Ketua DPRK Aceh Utara periode 2024–2029. 

Penetapan tersebut dilakukan dalam rapat paripurna DPRK Aceh Utara yang berlangsung di Gedung DPRK Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon, Senin (28/10/2024).

Arafat dilantik bersama tiga wakil ketua lainnya sebagai pimpinan definitif lembaga legislatif tersebut.Dari total 639 calon legislatif yang memperebutkan 45 kursi, ia meraih suara tertinggi sebanyak 9.618 suara.
Perolehan suara signifikan yang dikantongi Arafat memberi kontribusi besar terhadap capaian kursi Partai Aceh (PA), sekaligus memperkuat posisi caleg lain di dapil tersebut.


Ia kemudian dipercayakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh Muzakir Manaf atau Mualem dan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PA Kabupaten Aceh Utara, M Jhoni SH.
Penunjukan itu dinilai wajar dan proporsional, mengingat besarnya dukungan masyarakat yang ia peroleh.
Di tengah kesibukannya sebagai politisi, Ayah empat anak tersebut tetap menaruh perhatian pada pendidikan.
Ia menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi pada 2020 dan Magister Manajemen pada 2023 di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI).


Saat ini, suami dari Julina SPd, juga tengah menempuh pendidikan doktor (S3) pada bidang manajemen di Jawa Barat.
Sebagai pemimpin, Arafat dikenal dengan gaya kepemimpinan yang sederhana dan fokus pada penguatan fungsi kelembagaan DPRK.
“Sebagai pimpinan, saya berupaya memastikan seluruh komisi dapat bekerja optimal sesuai tugas dan fungsinya,” ujarnya.

Bagi banyak pihak, perjalanan hidupnya menjadi cerminan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang, pengalaman, dan kedekatan dengan masyarakat.
Arafat kini memikul harapan baru, mengawal aspirasi rakyat dan memastikan kebijakan yang lahir dari parlemen benar-benar berpihak pada kesejahteraan masyarakat Aceh Utara.

Sumber: Serambinews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *