News  

Jembatan Rusak dan Arus Deras, Nyawa Jadi Taruhan : Warga Aceh Utara Pertaruhkan Keselamatan Gunakan Rakit Demi Evakuasi Pasien

ACEH UTARA | Malam masih menyisakan gelap ketika belasan warga mulai berkumpul di tepian Krueng Sawang, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (13/6/2026) dini hari. Di tengah derasnya arus sungai yang dipicu hujan beberapa hari terakhir, mereka memikul sebuah misi yang tidak bisa ditunda: menyelamatkan nyawa seorang pasien stroke.

Di atas tandu sederhana, Haili (50), warga Gampong Gunci, dibawa perlahan menuju tepian sungai. Kondisinya membutuhkan penanganan medis segera. Namun, akses menuju rumah sakit justru menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi keluarga dan warga setempat.

Jembatan darurat yang selama ini menjadi satu-satunya penghubung masyarakat dengan pusat Kecamatan Sawang tidak lagi bisa dilalui. Arus Krueng Sawang yang semakin deras telah merusak jalur penyeberangan sementara yang dibangun pascabanjir besar pada November 2025 lalu.

Dalam situasi darurat itu, warga tidak memiliki banyak pilihan. Sebuah rakit sederhana menjadi satu-satunya harapan untuk membawa pasien menyeberangi sungai menuju ambulans yang telah menunggu di seberang.

“Pasien terpaksa dievakuasi menggunakan rakit karena jembatan darurat yang biasa digunakan warga untuk menyeberangi Krueng Sawang tidak dapat dilalui akibat derasnya aliran sungai,” kata Rully, salah seorang warga yang ikut menandu pasien.

Bermodal cahaya senter dan penerangan seadanya, warga bersama bidan desa berjibaku mengangkat pasien ke atas rakit. Setiap langkah dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Derasnya arus sungai sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan pasien maupun warga yang melakukan evakuasi.

Tak banyak percakapan yang terdengar malam itu. Semua fokus memastikan rakit bergerak perlahan menembus arus menuju seberang. Dalam gelap dan ketidakpastian, semangat gotong royong masyarakat menjadi kekuatan yang mengalahkan rasa takut.

Infrastruktur yang Belum Pulih

Bagi masyarakat Gampong Gunci dan sejumlah desa lainnya di kawasan Sawang, peristiwa semacam ini bukan lagi hal yang asing. Sejak jembatan utama penghubung antarwilayah roboh diterjang banjir pada akhir tahun lalu, kehidupan warga berubah drastis.

Aktivitas ekonomi terganggu. Anak-anak sekolah harus menghadapi perjalanan yang lebih sulit. Akses menuju fasilitas kesehatan menjadi persoalan serius, terutama ketika terjadi keadaan darurat.

Jembatan yang rusak tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan sejumlah gampong seperti Gunci, Kubu, Blang Cut, dan Lhok Cut dengan pusat Kecamatan Sawang. Ketika akses itu terputus, ribuan warga harus menghadapi berbagai keterbatasan yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Peristiwa evakuasi Haili menjadi gambaran nyata bagaimana keterbatasan infrastruktur dapat berujung pada ancaman keselamatan warga.

Berpacu dengan Waktu

Setelah berhasil menyeberangi sungai, Haili segera dipindahkan ke ambulans milik Puskesmas Sawang yang telah bersiaga. Tanpa menunggu lama, ambulans kemudian melaju menuju Rumah Sakit Arun untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Meski proses evakuasi berjalan lancar, kejadian tersebut kembali menyoroti persoalan mendasar yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan di kawasan itu.

Bagi warga Sawang, jembatan bukan sekadar bangunan fisik yang menghubungkan dua sisi sungai. Jembatan adalah jalur menuju sekolah, pasar, puskesmas, hingga rumah sakit. Jembatan adalah urat nadi kehidupan masyarakat yang menentukan seberapa cepat bantuan dapat tiba saat keadaan darurat terjadi.

Keuchik Gampong Gunci, Fazir Ramli, berharap pemerintah dapat mempercepat pembangunan kembali jembatan permanen yang roboh agar masyarakat tidak terus-menerus bergantung pada fasilitas darurat yang rentan terputus saat cuaca buruk.

“Sebab tidak semua pasien memiliki waktu untuk menunggu. Dalam kondisi darurat medis seperti stroke, setiap menit dapat menentukan keselamatan seseorang,” ujarnya.

Malam itu, rakit sederhana berhasil mengantarkan Haili menuju pertolongan. Namun bagi masyarakat Sawang, perjuangan sesungguhnya belum berakhir. Mereka masih menanti hadirnya jembatan permanen yang kokoh, agar tidak ada lagi warga yang harus mempertaruhkan keselamatan di atas derasnya arus sungai hanya untuk mendapatkan hak dasar berupa layanan kesehatan.

Sumber : Kompas.com

Exit mobile version