ACEH UTARA | Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Pasee Aceh menilai pemadaman listrik massal yang melanda Pulau Sumatera, khususnya wilayah Aceh, bukan lagi sekadar gangguan teknis biasa. Kondisi listrik hidup-mati dalam durasi panjang disebut telah mengganggu aktivitas masyarakat, melumpuhkan usaha kecil, hingga memengaruhi pelayanan publik dan aktivitas pendidikan.
FKM Pasee Aceh menilai kondisi tersebut sebagai bentuk kegagalan serius dalam menjamin hak dasar masyarakat terhadap layanan energi yang layak dan stabil. Organisasi itu juga menyoroti ironi Aceh sebagai daerah yang memiliki sumber daya energi, namun masih berulang kali mengalami blackout dan gangguan sistem kelistrikan.
Presiden FKM Pasee Aceh, Khussyairi, menegaskan bahwa pihak berwenang tidak cukup hanya menyampaikan permintaan maaf dan penjelasan teknis kepada masyarakat atas terjadinya pemadaman massal tersebut.
“Rakyat tidak hidup dari permintaan maaf. Ketika listrik padam, ekonomi rakyat lumpuh, komunikasi terputus, pelayanan terganggu, bahkan aktivitas pendidikan ikut hancur. Ini bukan persoalan sepele dan tidak boleh dianggap biasa,” ujar Khussyairi, Minggu (25/5/2026).
FKM Pasee Aceh mendesak Pemerintah Aceh dan pihak PLN untuk bertanggung jawab penuh terhadap kerugian dan dampak yang ditimbulkan akibat pemadaman listrik massal tersebut. Mereka juga meminta evaluasi total terhadap sistem distribusi dan ketahanan listrik di Aceh agar masyarakat tidak terus menjadi korban lemahnya tata kelola energi.
Selain itu, FKM Pasee Aceh turut menyoroti minimnya kesiapan mitigasi saat terjadi gangguan besar. Menurut mereka, Aceh seolah selalu berada pada posisi menerima dampak tanpa kepastian solusi yang konkret dari pihak terkait.
“Jangan sampai rakyat Aceh hanya dijadikan penonton di tanah yang kaya energi. Negara wajib hadir, bukan hanya saat mengambil sumber daya, tetapi juga saat rakyat membutuhkan kepastian hidup,” lanjut Khussyairi.
FKM Pasee Aceh juga meminta adanya transparansi penuh terkait penyebab blackout, langkah pemulihan permanen, serta jaminan agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.












