ACEH UTARA | Forum Komunikasi Mahasiswa (FKM) Pasee Aceh menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah Aceh yang mendorong pengembangan dan pengolahan Gas South Andaman dilakukan di Aceh melalui pemanfaatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun.
Dukungan tersebut disampaikan menyusul surat yang dikirim Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pengembangan cadangan gas South Andaman yang saat ini disebut sebagai salah satu temuan energi terbesar di Indonesia.
Presiden FKM Pasee Aceh, Khussyairi, menilai pengembangan proyek strategis nasional tersebut harus menjadi momentum kebangkitan ekonomi Aceh. Menurutnya, selama ini Aceh dikenal sebagai daerah penghasil sumber daya alam, namun manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat masih belum optimal.
“Pengolahan gas di Aceh merupakan langkah yang sejalan dengan semangat perdamaian dalam MoU Helsinki serta amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh,” kata Khussyairi dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, Pasal 160 UUPA menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam minyak dan gas bumi dilakukan secara bersama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh. Karena itu, Aceh dinilai memiliki landasan yang kuat untuk terlibat secara langsung dalam pengembangan dan pengolahan Gas South Andaman.
Khussyairi menegaskan masyarakat Aceh tidak meminta perlakuan khusus, melainkan mengharapkan hak-hak yang telah dijamin dalam regulasi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan daerah.
Menurutnya, pembangunan fasilitas pengolahan gas di KEK Arun akan memberikan dampak ekonomi yang luas, mulai dari terbukanya lapangan kerja, meningkatnya investasi, berkembangnya industri hilir, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.
FKM Pasee Aceh juga menilai KEK Arun memiliki kesiapan infrastruktur dan nilai historis sebagai kawasan industri energi yang pernah menjadi pusat aktivitas migas nasional. Karena itu, kawasan tersebut dinilai layak menjadi pusat pengolahan Gas South Andaman.
“Proyek ini harus menjadi peluang untuk menghidupkan kembali pusat pertumbuhan ekonomi Aceh yang berbasis pada pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan,” ujarnya.
Selain itu, Khussyairi mengingatkan agar pengelolaan Gas South Andaman tidak hanya berorientasi pada produksi dan distribusi energi, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh yang berada di sekitar wilayah operasi proyek.
Ia berharap generasi muda Aceh dapat terlibat langsung dalam proyek tersebut, baik sebagai tenaga profesional, insinyur, pelaku usaha, maupun bagian dari ekosistem industri yang akan tumbuh di masa mendatang.
“Generasi muda Aceh tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi bagian dari pembangunan dan menjadi aktor utama dalam pertumbuhan ekonomi yang lahir dari sumber daya alam Aceh sendiri,” katanya.
Lebih lanjut, FKM Pasee Aceh menegaskan dukungannya terhadap investasi dan pembangunan nasional. Namun, mereka menilai keberhasilan proyek Gas South Andaman harus diukur dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat Aceh melalui peningkatan kesejahteraan, kesempatan kerja, pembangunan industri, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Gas South Andaman harus menjadi lembaran baru kebangkitan Aceh. Ini bukan perjuangan satu kelompok atau satu lembaga, melainkan kepentingan bersama seluruh rakyat Aceh agar kekayaan alam yang dimiliki benar-benar menjadi instrumen kesejahteraan bagi generasi sekarang dan generasi mendatang,” tutup Khussyairi.












