ACEH UTARA | Kisah perjalanan Ibnu Batutah saat mengunjungi Samudera Pasai pada abad ke-14 menjadi sorotan dalam tausiah Ustaz Habibi An-Nawawi, Lc., M.Dipl., pada rangkaian Milad Samudera Pasai ke-800 di Lapangan Upacara Landing, depan Kantor Bupati Aceh Utara, Rabu (9/9/2026) malam.
Di hadapan ribuan jamaah, alumnus University Al Wasathiyyah, Yaman, tersebut mengisahkan catatan perjalanan Ibnu Batutah yang menggambarkan kehidupan masyarakat dan pemerintahan Samudera Pasai dengan tradisi keislaman, tata krama, serta peradaban yang kuat.
Menurut Ustaz Habibi, kisah Ibnu Batutah menjadi salah satu gambaran bahwa Samudera Pasai pada masa lalu bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan, tetapi juga sebagai pusat perkembangan Islam dan ilmu pengetahuan di kawasan Nusantara.
“Jangan kita katakan bahwa kita bangsa yang tidak beradab. Jangan kita katakan bahwa kita tidak punya sejarah dan tidak punya peradaban. Kita mengerti tata krama, kita mengerti sopan santun, kita mengerti bagaimana menyambut dan memuliakan tamu,” ujar Ustaz Habibi dalam tausiahnya.
Ia kemudian menguraikan perjalanan Ibnu Batutah ketika tiba di Samudera Pasai dan mendapat sambutan sebelum bertemu dengan Sultan Al-Malik Al-Zahir, penguasa Samudera Pasai pada masa itu.
Ibnu Batutah merupakan pengembara, ulama, dan cendekiawan Muslim asal Maroko yang hidup pada abad ke-14. Ia melakukan perjalanan panjang ke berbagai wilayah dunia dan mencatat berbagai kehidupan masyarakat yang ditemuinya, termasuk saat berada di Samudera Pasai.
Ustaz Habibi juga menceritakan kehidupan keagamaan Sultan Al-Malik Al-Zahir. Salah satunya mengenai kebiasaan sang sultan berjalan kaki menuju masjid untuk menunaikan Salat Jumat serta menghadiri majelis ilmu bersama para ulama.
Kisah tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa kehidupan Samudera Pasai tidak hanya ditopang oleh aktivitas perdagangan, tetapi juga oleh agama, akhlak, dan tradisi keilmuan.
“Samudera Pasai bukan sekadar pusat perdagangan dunia, tetapi pusat syiar Islam yang menyinari seluruh Nusantara,” ujarnya.
Ia mengatakan, kawasan Pasai pada masa itu menjadi tempat bertemunya ulama, sufi, penulis Al-Qur’an, serta para pencari ilmu.
Karena itu, Ustaz Habibi menilai peringatan 800 tahun Samudera Pasai harus menjadi momentum untuk kembali mengenal sejarah sekaligus mengambil nilai-nilai yang masih relevan bagi kehidupan masyarakat saat ini.
Tausiah tersebut menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Milad Samudera Pasai ke-800 yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Ribuan jamaah memadati Lapangan Upacara Landing, depan Kantor Bupati Aceh Utara. Masyarakat mulai berdatangan sejak sore untuk mengikuti rangkaian zikir dan tausiah.
Kegiatan itu turut dihadiri Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, SE., MM., atau Ayah Wa, jajaran pemerintah daerah, ulama, tokoh adat, serta masyarakat.
Peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 tahun ini mengusung tema “Tajaga Adat, Tapeukong Syariat” dan menjadi bagian dari rangkaian Piasan Pase 2026.
Melalui kisah Ibnu Batutah, Ustaz Habibi mengajak masyarakat kembali melihat Samudera Pasai sebagai warisan sejarah yang tidak hanya menyimpan cerita tentang kejayaan masa lalu, tetapi juga nilai keislaman, ilmu pengetahuan, akhlak, tata krama, dan peradaban yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi Aceh Utara hari ini.***
Sumber : Serambinews.com
