ACEH UTARA | Jembatan sepanjang sekitar tujuh meter di Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, yang menjadi akses utama siswa menuju SD Negeri 25 Sawang, kini dalam kondisi memprihatinkan.
Lantai jembatan sudah berlubang. Sejumlah papan kayu juga tampak lapuk, sehingga dikhawatirkan membahayakan siswa yang setiap hari melintasinya menuju sekolah.
Kondisi tersebut mendapat perhatian setelah seorang guru mengunggah video keluhan melalui media sosial pada 20 September 2026.
Dalam video yang diunggah melalui akun @gurulamgle, guru perempuan bernama Iza meminta pemerintah segera memperbaiki jembatan tersebut karena menjadi satu-satunya akses penting bagi para siswa menuju sekolah.
“Mohon bantuannya, jembatan kami ini sudah bolong-bolong. Jembatan ini akses utama menuju SDN 25 Sawang. Harus dilewati anak didik kami. Lihatlah jembatannya, tolong bantu diperbaiki,” ujar Iza dalam video tersebut.
Khawatir Siswa Terjatuh ke Sungai
Iza mengatakan kondisi jembatan menjadi semakin berbahaya ketika hujan turun. Lantai kayu yang sudah lapuk menjadi licin dan berpotensi membahayakan siswa yang melintas.
Kekhawatiran semakin besar karena tepat di bawah jembatan terdapat sungai dengan batu serta aliran air yang cukup deras.
“Kami mohon jembatan ini diperbaiki,” katanya.
Kepala Desa Riseh Tunong, Abdurrahman, membenarkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi pada Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, pemerintah desa telah melaporkan kerusakan jembatan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Bahkan, pihaknya juga telah menyampaikan langsung persoalan tersebut kepada Wakil Bupati Aceh Utara.
“Kami juga sudah laporkan langsung pada Wakil Bupati Aceh Utara. Jembatan itu sudah ditinjau Koramil. Kami harap, masalah jembatan ini selesai dalam tahun ini, karena fungsinya sangat vital untuk anak-anak,” ujar Abdurrahman.
Sekolah Bakal Direlokasi
Abdurrahman mengatakan, SD Negeri 25 Sawang yang berada di kawasan pedalaman juga direncanakan untuk direlokasi ke lokasi yang berada di pinggir jalan utama desa.
Pemerintah desa, kata dia, telah menyediakan lahan untuk pembangunan sekolah baru. Namun, proses pembangunan gedung membutuhkan waktu sehingga jembatan yang menjadi akses utama siswa tetap harus mendapat perhatian.
“Lahan relokasi sudah kami sediakan. Namun untuk bangunan sekolah baru relokasi kan butuh waktu. Karena itu, kami minta jembatan dulu diperbaiki,” terangnya.
Terkendala Anggaran
Camat Sawang Mazinuddin turut membenarkan kondisi jembatan tersebut. Ia menyebut laporan mengenai kerusakan jembatan telah disampaikan kepada pemerintah.
“Laporan sudah kita sampaikan ke pemerintah. Namun, karena keterbatasan anggaran jadi belum diperbaiki. Apalagi kondisi kita pascabanjir November 2025 lalu, banyak yang rusak,” kata Mazinuddin.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Aceh Utara, Jafar, belum memberikan tanggapan.
Pesan yang dikirimkan dan panggilan telepon yang dilakukan hingga berita ini ditayangkan belum mendapat respons.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah perbaikan, mengingat jembatan tersebut bukan sekadar akses penghubung, tetapi menjadi jalur yang setiap hari digunakan siswa untuk menuju sekolah.***
Sumber : Kompas.com












