Aceh, News  

Protes! Puluhan Tahun Jalan Tak Kunjung Diaspal, Warga Lima Gampong Cot Girek Bentangkan Bendera Bulan Bintang

ACEH UTARA | Kecewa terhadap kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki selama bertahun-tahun, warga dari lima gampong di Kemukiman Berandang, Kecamatan Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, membentangkan Bendera Bulan Bintang pada Minggu (25/10/2026).

Aksi tersebut menjadi bentuk protes sekaligus desakan agar pemerintah daerah segera memberikan perhatian serius terhadap infrastruktur jalan yang menjadi akses penting bagi masyarakat.

Dalam aksi itu, warga mendesak Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayah Wa, turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi jalan sekaligus mendengar keluhan masyarakat yang selama ini menantikan realisasi perbaikan.

Lima gampong yang menyuarakan aspirasi tersebut meliputi Gampong Beurandang Asan, Beurandang Dayah, Beurandang Krueng, Seupeng, dan Drien II.

Warga menilai kerusakan jalan yang berlangsung lama telah menghambat aktivitas sehari-hari, mulai dari mobilitas masyarakat hingga pengangkutan hasil pertanian dan perkebunan. Mereka berharap pemerintah tidak hanya menerima usulan melalui forum perencanaan pembangunan, tetapi juga turun langsung melihat kondisi riil di lapangan.

‎Ibnu, salah seorang warga Kemukiman Berandang, mengatakan perbaikan jalan tersebut sudah semestinya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Menurutnya, akses jalan yang layak sangat dibutuhkan untuk menunjang mobilitas dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Jalan yang menghubungkan kawasan Kilometer 8, Kecamatan Lhoksukon, menuju Kemukiman Berandang itu menjadi salah satu akses penting bagi warga. Selain menghubungkan antargampong, jalur tersebut juga digunakan masyarakat untuk menuju pusat pemerintahan Kecamatan Cot Girek serta mengakses berbagai fasilitas pelayanan publik.

Puluhan Tahun Menanti Pengaspalan

Menurut keterangan masyarakat, jalan tersebut terakhir kali diperbaiki pada masa pemerintahan Bupati Aceh Utara, Tarmizi A. Karim. Sejak saat itu, warga menyebut jalan tersebut belum kembali mendapatkan pengaspalan sebagaimana yang diharapkan.

Kondisi jalan semakin menyulitkan masyarakat saat musim penghujan. Permukaan jalan yang rusak membuat kendaraan lebih sulit melintas dan berpotensi menghambat mobilitas warga, terutama ketika mengangkut hasil pertanian maupun perkebunan.

‎Bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian dan perkebunan, kondisi jalan bukan sekadar persoalan kenyamanan perjalanan. Infrastruktur yang memadai turut menentukan kelancaran distribusi hasil produksi dari gampong menuju pasar dan pusat perdagangan.

‎Warga juga mengkhawatirkan kerusakan jalan dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada malam hari ketika pencahayaan terbatas dan kondisi permukaan jalan sulit terlihat.

Usulan Musrenbang Berulang Kali Disampaikan

Persoalan perbaikan jalan menuju Kemukiman Berandang disebut bukan masalah baru. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari tokoh masyarakat dan sejumlah geuchik setempat, usulan pembangunan jalan tersebut telah berulang kali disampaikan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.

Bahkan, jalan itu disebut telah masuk dalam daftar prioritas usulan pembangunan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, hingga kini masyarakat masih menantikan realisasi perbaikan.

Belum terealisasinya usulan tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai tindak lanjut pemerintah daerah terhadap aspirasi yang telah disampaikan melalui mekanisme perencanaan pembangunan.

Warga berharap usulan yang berulang kali diajukan tidak hanya tercatat dalam dokumen perencanaan, tetapi juga ditindaklanjuti melalui program pembangunan yang jelas, sesuai kebutuhan di lapangan dan kemampuan anggaran daerah.

Masyarakat menyebut sekitar 10 gampong di wilayah Kemukiman Berandang memanfaatkan jalan tersebut sebagai salah satu akses utama. Artinya, persoalan infrastruktur itu tidak hanya menyangkut kepentingan lima gampong yang menyampaikan protes, tetapi juga masyarakat dari wilayah lain yang menggunakan jalur tersebut.

Warga Desak Ayahwa Turun Langsung

Pembentangan Bendera Bulan Bintang menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi warga atas kondisi infrastruktur yang mereka nilai belum mendapatkan penanganan memadai.

Melalui aksi tersebut, warga berharap Ayah Wa turun langsung ke lokasi untuk melihat tingkat kerusakan jalan, mengetahui kesulitan yang dihadapi masyarakat, serta mendengar kebutuhan pembangunan di Kemukiman Berandang.

‎Masyarakat juga meminta instansi teknis terkait segera melakukan peninjauan lapangan guna mengidentifikasi tingkat kerusakan, menentukan kebutuhan penanganan, dan menyusun langkah perbaikan sesuai kondisi jalan serta kemampuan anggaran daerah.

‎Bagi warga, kejelasan tindak lanjut usulan Musrenbang menjadi hal penting agar masyarakat mengetahui perkembangan perencanaan dan kemungkinan realisasi pembangunan.

‎Mereka berharap pemerintah daerah memberikan kepastian mengenai langkah yang akan ditempuh, sehingga aspirasi yang telah disampaikan selama bertahun-tahun tidak terus berakhir tanpa kejelasan.

Jalan Layak Jadi Kebutuhan Mendesak Warga

Perbaikan jalan menuju Kemukiman Berandang dinilai penting untuk mendukung akses pendidikan, pelayanan kesehatan, administrasi pemerintahan, serta kegiatan ekonomi masyarakat.

Kondisi jalan yang memadai juga dibutuhkan untuk memperlancar pengangkutan hasil pertanian dan perkebunan agar distribusi hasil produksi warga berlangsung lebih efisien.

‎Warga berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Utara memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan tersebut melalui langkah nyata, perencanaan yang jelas, penentuan prioritas pembangunan, serta keterbukaan informasi mengenai tahapan pelaksanaannya.

‎Hingga Minggu (25/10/2026), masyarakat Kemukiman Berandang masih menantikan respons konkret pemerintah daerah terhadap aspirasi perbaikan jalan yang disebut telah disampaikan berulang kali selama bertahun-tahun.

Bagi warga, jalan yang layak bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan keselamatan, kelancaran aktivitas ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Mereka berharap jalan penghubung tersebut segera mendapatkan penanganan agar masyarakat dari berbagai gampong tidak terus menghadapi kesulitan saat melintasi akses yang menjadi urat nadi aktivitas sehari-hari.***

Sumber : Acehvox.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *